Posted by sabdadewi in Mengenal Budaya Kalender
Dunia, ~ Kalender Jawa ~
Melanjutkan artikel tentang perhitungan
kalender, berikut saya rangkumkan dan lengkapi juga perkalenderan yang
saat ini banyak di gunakan oleh umat manusia di seluruh dunia yang
masih menjadi acuan, baik tentang seluk beluk peradabannya maupun adat
istiadat budayanya …
Secara umum ada
tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia. Pertama,
kalender solar (syamsiyah,
berdasarkan matahari), yang satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi
matahari: 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari. Kedua,
kalender lunar (qamariyah,
berdasarkan bulan), yang satu tahunnya adalah dua belas kali lamanya bulan
mengelilingi bumi: 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan)
dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672
hari. Ketiga, kalender lunisolar, yaitu
kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar
dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar
memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun,
agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.
Kalender Masehi, Iran
dan Jepang merupakan kalender solar, sedangkan kalender Hijriyah, Jawa islam
(pada jaman Sultan Agung), serta Sunda merupakan kalender lunar. Adapun contoh
kalender lunisolar adalah kalender Imlek, Saka, Buddha dan Yahudi. Semua
kalender tidak ada yang sempurna, sebab jumlah hari dalam setahun tidak bulat.
Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu menurut perjanjian
yang dibuat sehari lebih panjang (tahun kabisat atau leap year). Pada kalender solar pergantian hari
berlangsung tengah malam (midnight) dan awal
setiap bulan (tanggal satu) tidak tergantung pada posisi bulan. Adapun pada
kalender lunar dan lunisolar pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam (sunset) dan awal setiap bulan adalah saat konjungsi
(Imlek, Saka, dan Buddha) atau saat munculnya Hilal (Hijriyah, Jawa Islam, dan
Yahudi).
Kalender Romawi
Kalender Masehi pada
hakikatnya adalah kalender Romawi yang bermula sejak pendirian kota Roma, tujuh
setengah abad sebelum Nabi Isa al-Masih a.s. dilahirkan. Ketika Romulus dan
Remus mendirikan kota Roma tahun 753 SM menurut hitungan kita sekarang, mereka
membuat kalender lunisolar. Awal tahun adalah awal musim semi, dan tahun
pembangunan Roma ditetapkan sebagai tahun 1 AUC (ab urbi condita=
“sejak kota dibangun”)
Nama-nama bulan adalah Martius (Mars,
dewa perang), Aprilus (Aprilia, dewi cinta), Maius (Maya, dewi kesuburan),
Junis (Juno, istri dewa Jupiter), Quintilis (bulan ke-5), Sextilis (bulan
ke-6), September (bulan ke-7), October (bulan ke-8), November (bulan ke-9),
December (bulan ke-10), Januari (Janus, dewa penjaga gerbang langit), dan
Februari (Februalia, dewi kesucian). Masing-masing bulan 30 hari, kecuali
Februari sebagai bulan terakhir hanya 24 atau 25 hari, sehingga jumlah setahun
354 atau 355 hari. Agar tahun baru tanggal 1 Martius tetap jatuh pada awal
musim semi, setiap tiga tahun disisipkan bulan interkalasi, Mercedonius,
setelah Februari.
Pada tahun 708 AUC (tahun 46 SM, kata
kita sekarang), kalender lunisolar Romawi berubah menjadi kalender solar yang
ditiru dari bangsa Mesir. Masyarakat Mesir purba menyembah dewa matahari dan
kehidupan mereka sangat tergantung pada pasang dan surut Sungai Nil, sehingga
mereka sejak tahun 4236 SM membuat kalender solar untuk menandai musim banjir,
musim tanam dan musim panen. Penguasa Romawi saat itu, Julius Caesar, bobogohan
dengan Cleopatra ratu Mesir. Untuk mengambil hati kekasihnya, Julius Caesar
mengubah kalendernya menjadi kalender solar. Aneh tapi nyata: kalender berubah
gara-gara cinta! (^_^).
Tahun 708 AUC itu
ditetapkan oleh Julius Caesar menjadi tahun 1 Julian. Oleh karena merupakan
tahun transisi dari sistem lunar ke sistem solar, tahun itu ditambah 90 hari:
67 hari diletakkan antara November dan December, dan 23 hari sesudah Februari.
Jadi tahun 1 Julian berjumlah 445 hari, dan sering dijuluki annus confusionis (“tahun campur-aduk”).
Kaisar Romawi
berikutnya, Octavianus Augustus, ingin juga mengabadikan namanya dalam
kalender. Namanya, Augustus, dipakai
mengganti nama bulan Sextilis. Untunglah kaisar-kaisar selanjutnya tidak
memiliki keinginan serupa, sehingga nama-nama bulan tidak lagi mengalami
perubahan.
Di negara-negara Asia, Afrika dan
Amerika Latin, penyebaran kalender Gregorian dilakukan oleh negara-negara Eropa
yang menjajahnya. Di Indonesia sampai awal abad ke-20 kalender Hijriyah masih
dipakai oleh raja-raja Nusantara. Bahkan raja Karangasem yang beragama Hindu,
Ratu Agung Ngurah, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda
yang beragama Nasrani, Otto van Rees, pada tahun 1894 masih menggunakan tarikh
1313 Hijriyah.
Kalender Gregorian
secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang
menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda. Maka tercapailah niat Octavianus Augustus yang ingin namanya abadi. Nama
Kaisar Romawi ini senantiasa diucapkan ratusan juta orang Indonesia setiap
tahun, tatkala masyarakat kita merayakan hari proklamasi kemerdekaan .
Kalender Saka
Adalah sebuah kalender yang berasal dari India.
Kalender ini merupakan sebuah
penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender
luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.
Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan.
Berikut nama bulan-bulan tersebut:
|
No
|
Penanggalan
Jawa
|
Awal
|
Akhir
|
|
1
|
Srawanamasa
|
Juli
|
Agustus
|
|
2
|
Bhadrawadamasa
|
Agustus
|
September
|
|
3
|
Asujimasa
|
September
|
Oktober
|
|
4
|
Kartikamasa
|
Oktober
|
November
|
|
5
|
Margasiramasa
|
November
|
Desember
|
|
6
|
Posyamasa
|
Desember
|
Januari
|
|
7
|
Maghamasa
|
Januari
|
Februari
|
|
8
|
Phalgunamasa
|
Februari
|
Maret
|
|
9
|
Cetramasa
|
Maret
|
April
|
|
10
|
Wesakhamasa
|
April
|
Mei
|
|
11
|
Jyesthamasa
|
Mei
|
Juni
|
|
12
|
Asadhamasa
|
Juni
|
Juli
|
Di India satu tahun dibagi menjadi enam
musim, atau dengan kata lain setiap musim berlangsung dua bulan. Berikut
nama-nama musimnya :
1.
Warsa, musim hujan bertepatan dengan
Srawana dan Bhadrawada.
2.
Sarat, musim rontok, dan seterusnya.
3.
Hemanta, musim dingin
4.
Sisira, musim sejuk kabut
5.
Basanta, musim semi
6.
Grisma, musim panas
1.
Kalender Saka berawal pada tahun 78
Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahan (Sâlivâhana). Kala
itu Saliwahana yang adalah seorang raja ternama dari India bagian selatan,
mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan
oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya adalah seorang musuh atau
saingan Saliwahana, beliau berasal dari India bagian utara.
2.
Mengenai kaum Saka ada yang menyebut
bahwa mereka termasuk sukabangsa turuki atau Tatar. Namun ada pula yang
menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka
sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa sansekerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang
Afganistan).
Sebelum masuknya agama Islam, para
sukubangsa di Nusantara bagian barat yang terkena pengaruh agama
Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan
dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan
Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam
masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang
merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender
Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal dipakai sampai sekarang,
begitu pula di beberapa daerah di Jawa, seperti di Tengger yang
banyak penganut agama Hindu.
Kalender Tinghoa
Imlek (yang artinya kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender
‘lunisolar’ yang dibentuk dengan menggabungkan kalender
bulan dan kalender matahari.
Kalender Tionghoa hingga sekarang
masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa
dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau
pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti
“Kalender Agrikultur” “Kalender Yin (karena berhubungan dengan aspek bulan),
“Kalender Lama” setelah “Kalender Baru” yaitu Kalender Masehi, diadopsi
sebagai kalender resmi.
Kalender ini mulai
dikembangkan pada milenium ke-3 SM, konon ditemukan oleh
penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698
SM-2599 SM, Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841 SM
dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama setiap
tahun dimulai dekat dengan titik balik Matahari pada musim
dingin. Dimana Kedua belas binatang yang melambangkan kedua belas Cabang
Bumi adalah, sesuai urutannya:
Ia memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan
kalender umum, seperti: perhitungan bulan adalah rotasi
bulan pada bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada
tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, “hari” dalam Kalender
Tionghoa dimulai dari pukul 23:00 dan bukan pukul 00:00 tengah malam). Satu
tahun ada 12 bulan, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda
(rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun
Matahari Cina adalah setara dengan satu pemulaan Matahari ke dalam tanda zodiak
tropis. Matahari selalu melewati titik balik Matahari musim dingin selama
bulan 11.
|
No
|
Penanggalan
Tionghoa
|
Lama
Hari
|
|
1
|
Cia Gwee
|
30
|
|
2
|
Ji Gwee
|
29
|
|
3
|
Sa Gwee
|
30
|
|
4
|
Si Gwee
|
30
|
|
5
|
Go Gwee
|
29
|
|
6
|
Lak Gwee
|
30
|
|
7
|
Cit Gwee
|
29
|
|
8
|
Pe Gwee
|
29
|
|
9
|
Kauw Gwee
|
30
|
|
10
|
Cap Gwee
|
29
|
|
11
|
Cap It
Gwee
|
29
|
|
12
|
Cap Ji
Gwee
|
30
|
|
13
|
Lun
…. Gwee
|
(30)
|
|
Total
|
354/(384)
|
|
Keterangan : Tanda miring dan kurung merupakan tahun
kabisat dalam kalender Tionghoa yang berjumlah 7 buah yaitu 3,6,8,11,14,17 dan
19.
Kalender Hijriah
Adalah kalender yang digunakan
oleh umat Islam untuk menandai terjadinya peristiwa Hijrah-nya
Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622
M.
Menurut mereka, yang menetapkan
peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW (ditemani Abu Bakar) dari Mekah ke Madinah
adalah sesuai dengan firman ALLAH SWT:
”Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia
menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan)
agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang
empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun
memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa.” (At Taubah(9):36).
Di beberapa negara yang berpenduduk
mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan
sehari-hari. Tidak seperti penetapan kalender Romawi yang menggunakan sistem
matahari, Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12
bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Berikut nama-nama bulannya :
1. Muharram, artinya, yang diharamkan atau menjadi
pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar, artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab
pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ul Awal, artinya masa kembalinya kaum lelaki yang
merantau (shafar).
4. Rabi’ul Akhir, artinya akhir masa menetapnya kaum
lelaki.
5. Jumadil Awal, artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai
terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir, artinya akhir kekeringan. Dengan
demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab, artinya mulia. Jaman dulu, bangsa Arab sangat
memuliakan bulan ini.
8. Sya’ban, artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab
berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan, artinya sangat panas. Bulan yg memanggang
(membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum
sebulan penuh.
10. Syawwal, artinya kebahagiaan.
11. Zulqaidah, artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki
Arab.
12. Zulhijjah, artinya yang menuaikan haji.
Sistem penanggalannya serta perhitungan
Hilalnya sebagai berikut :
Bulan, atau tepatnya
peredaran bulan mengelilingi bumi, sejak lama sudah dikaitkan dengan kalender Islam, terutama untuk menandakan pergantian
bulan. Karena seperti halnya kalender Yahudi, kalender Islam adalah Qamariyah (Lunar) yang
berpatokan pada orbit bulan mengelilingi bumi. Hanya saja sedikit beda dalam
penetapan awal bulan antara kalender Yahudi dengan kalender Islam. Kalender Yahudi sudah dimodifikasi agar awal bulan
jatuh pada fase ‘bulan baru’ (new moon), fase di mana bulan sama sekali tidak
terlihat dilangit! Ini dimaksudkan agar awal bulan dapat dikalkulasikan dengan
tepat secara matematis. Sedangkan dalam kalender Islam, awal bulan harus
ditandai dengan terjadinya hilal (bulan sabit) pertama. Ini yang menjadi sering
kontradiksi dalam penentuan awal bulan Islam, sehingga awal bulan Islam di
berbagai tempat di bumi ini menjadi tidak seragam.
Kenapa tidak seragam? karena masing-masing
mempunyai kriteria tertentu dalam menentukan kapan terjadinya hilal untuk
pertama kali. Ada yang menetapkan hilal harus terlihat secara fisik di langit,
ada yang menetapkan jikalau bulan sudah terlihat berapa derajad di atas
matahari pada saat terbenam, ada yang menentukan kalau piringan bulan sudah
terlihat nol koma nol nol sekian persen (tentu saja menentukan kriteria yang
satu ini harus menggunakan komputer!) maka dianggap hilal sudah terlihat, dll.
Belum lagi kondisi fisik di Bumi jikalau kita ingin melihat hilal di langit.
Biasanya hilal pertama terlihat dekat dengan horizon di sebelah barat, kalau di
kota biasanya tertutup gedung-gedung tinggi, belum lagi jikalau cuaca mendung
berawan menambah sulitnya menemukah hilal di langit. Belum lagi faktor sinar
matahari yang terang ikut mempersulit penampakan hilal pertama di langit. Ingat
untuk menentukan apakah keesokan harinya sudah bulan baru atau belum, maka
hilal yang terjadi harus sebelum matahari terbenam, jikalau hilal terjadi pada
sesudah matahari terbenam, maka bulan baru akan dimulai lusanya.
Ya, ini
hanya sekedar gambaran untuk menentukan awal bulan dalam
kalender Islam. Satu hal yang tidak boleh dilanggar dalam penentuan lamanya
satu bulan qomariyah, yaitu satu bulan qomariyah
tidak boleh kurang dari 29 hari dan tidak boleh lebih dari 30 hari, Jadi satu bulan qomariyah harus
antara 29 atau 30 hari.
Kalender Maya
Merupakan sistem kalender yang disusun
oleh sebuah peradaban yang dikenal dengan nama Maya. Penyebarannya meliputi
wilayah Mexico hingga seluruh daratan Amerika. Kalender ini diciptakan sekitar
tahun 747-353 SM. Setidak ada 20 macam jenis kalender Maya. Suku Maya
menjadikan kalendernya sebagai acuan dan ukuran dalam menentukan hampir setiap
kejadian yang mereka alami. Mereka juga memandang kalendernya sebagai bentuk
visual terhadap perjalanan waktu yang menggambarkan bagaimana kehidupan itu berlangsung,
seperti mencatat pergerakan matahari, bulan, planet-planet yang terlihat,
masa panen, dan bahkan siklus kehidupan serangga.
Pada tahun 2012 silam, dunia di hebohkan
isu kiamat yang dipicu berakhirnya kalender Bangsa Maya yang akan jatuh 21
Desember 2012. bahkan di kalangan keturunan Maya pun ada yang mempercayainya,
sampai-sampai mereka melakukan ritual menyambut “kiamat” dan menyiapkan peti
mati yang diisi barang kenangan…
Beragam bantahan dan
penjelasan telah diberikan, masih saja ada orang yang bertanya: benarkah dunia akan mengalami kehancuran atau kiamat pada
2012 ?
Leonzo Barreno, ahli
Maya dari Saskatchewan, Kanada mengatakan, konsep ‘kiamat’ adalah interpretasi
salah dari kalender hitung panjang. Dosen University of Regina itu
menambahkan, tetua Bangsa Maya memberitahunya, 21 Desember tahun ini hanya
bermakna sederhana : Pergantian kalender baru !
Sebagai contoh, untuk hari pertama
berdasarkan sistem Perhitungan Panjang akan ditulis 0.0.0.0.1 dan pada hari
ke-19 akan menjadi 0.0.0.0.19. Karena basis perhitungannya didasarkan pada
angka 20, maka penulisan hari yang ke-20 menjadi 0.0.0.1.0. Untuk setahun
perhitungan akan ditulis 0.0.1.0.0 dan 20 tahun menjadi 0.1.0.0.0, sedangkan
untuk kisaran waktu 400 tahun akan ditulis menjadi 1.0.0.0.0 dan inilah lama 1
siklus.
Kalender Qibti
Kalender ini adalah kalender bangsa
Mesir kuno, yang saat ini masih digunakan tetapi secara rahasia oleh para
supranaturalis/ paranormal. Kalender ini punya banyak fungsi, yaitu untuk
mengetahui kapan seseorang wafat, lahir, sembuh, dsb. Contohnya : Jika orang
Pisces atau HUT yang sakit mulai hari Sabtu bulan Kahik maka pertanda akan
wafat. Dan memang ilmu falak dalam kitab ini berlandaskan juga kepada kalender
ini dan kalender Rum atau Romawi.
Perhitungan tahun dan
awal tahun
Awal tahun dimulai tanggal 12 September
yang terdekat. Dan tahunnya adalah tahun masehi -283. Misal tahun 2008. Maka
2008-283=1725. Jadi tahun 2008 M adalah tahun 1725 Qibti, yg mana awal tahun
1725 dimulai dari 12 September 2008.
Jumlah bulannya 13 :
Yaitu : Tutin, Babah, Hatur, Kahik,
Tubah, Amsyir, Burmahat, Burmadah, Basnas, Buknah, Abib, Misri, Ayam Nasa’.
Dari Tutin ke Misri masing-masing jumlah harinya 30 hari. Dan Ayam Nasa’
lamanya 5 atau 6 hari. Enam hari untuk tahun kabisat. Nama hari adalah Ahad
sampai Sabtu (7 hari).
Kalender Mesolitikum
Arkeolog percaya telah menemukan
kalender lunar tertua di dunia di Aberdeenshire, Skotlandia,
Inggris. Penggalian di lapangan di Crathes Castle menemukan serangkaian 12
lubang yang dibuat untuk meniru fase bulan. Sebuah tim yang dipimpin oleh
Universitas Birmingham menunjukkan monumen kuno itu diciptakan oleh manusia
sekitar 10.000 tahun yang lalu. Para ahli yang melakukan analisa
mengatakan lubang tersebut mungkin berisi tiang kayu. Kalender Mesolitikum
seperti ini berusia ribuan tahun lebih tua dari monumen pengukur waktu yang
dibuat peradaban Mesopotamia.
Koreski penyimpangan
musim
Penyelarasan lubang juga sejalan dengan
matahari terbit sehingga manusia dapat mengetahui ‘koreksi astronomi’ untuk
mengikuti perjalanan waktu dan perubahan musim.
“Bukti menunjukkan bahwa masyarakat
pemburu-pengumpul di Skotlandia memiliki kebutuhan untuk melacak pergerakan
waktu, untuk mengoreksi penyimpangan musim di tahun lunar, dan ini terjadi
hampir 5.000 tahun sebelum kalender formal pertama yang dikenal.”
Ini menggambarkan langkah penting menuju konsep
perkembangan waktu secara formal. Ini juga penting bagi sejarah itu
sendiri, penemuan ini juga menunjukan bukti kuat bahwa ada kehidupan
manusia di zaman Mesolitikum di daerah Skotlandia.






